Lumpur Mengeras: Dua Bulan Pascabanjir Aceh Tamiang Tanpa Pemulihan Nyata

SIWAH RIMBA

- Redaksi

Selasa, 3 Februari 2026 - 16:51 WIB

50453 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aceh Tamiang — Lebih dari dua bulan setelah banjir besar menenggelamkan Kabupaten Aceh Tamiang pada 26 November 2025, pemulihan tak lebih dari jargon birokrasi.

Di Desa Kota Lintang, Kecamatan Kuala Simpang, warga masih hidup di tenda darurat, sementara rumah-rumah mereka terkubur lumpur yang dibiarkan mengeras, setebal lebih dari satu meter.

Investigasi lapangan Aliansi Pers Kawal Rehabilitasi dan Rekonstruksi Pascabanjir Aceh, Minggu (1/2/2026), menemukan kenyataan pahit: pemukiman warga praktis tak tersentuh penanganan serius. Lumpur menutup lantai rumah, menyumbat jalan lingkungan, dan memutus akses dasar kehidupan.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemerintah Daerah belum sepenuhnya hadir di titik paling mendesak—membersihkan, memperbaiki, dan memulihkan.

Alih-alih pengerahan alat berat dan tim pembersihan, warga justru diminta membersihkan rumah mereka sendiri. Sebuah permintaan yang nyaris absurd, mengingat lumpur telah mengeras seperti semen dan warga kehilangan sumber penghidupan akibat banjir dengan ketinggian air mencapai enam meter.

“Kami diminta membersihkan rumah sendiri, sementara untuk makan pun sulit. Usaha kami habis,” ujar Fatimah, warga Dusun Cendrawasih, Desa Landuh, Kecamatan Rantau.

Baca Juga :  Mantap???. Armia Fahmi - Ismail Menang Telak Di Pilkada Aceh Tamiang.

Keluhan serupa disampaikan Armia, warga Dusun Merak, mengaku selama lebih dari dua bulan hanya menerima bantuan beras dalam jumlah terbatas. Bantuan itu, kata dia, tak sebanding dengan kerusakan dan kehilangan yang mereka alami.

“Kami hanya ingin rumah kami diperbaiki di tempat semula. Bukan dipindahkan, bukan dijanjikan,” katanya.

Sejumlah warga lainnya, Hendri dan Abdul Muis, secara tegas menolak hunian sementara (huntara) yang dibangun jauh dari lingkungan asal mereka. Bagi warga, huntara bukan solusi, melainkan bentuk pengalihan masalah.

“Kami tidak butuh huntara. Kami butuh rumah kami dipulihkan,” ujar mereka.

Di Dusun Garuda dan Rajawali, kondisi tak kalah memprihatinkan. Lumpur di dalam rumah warga telah mengeras setinggi lebih dari satu meter.

Jalan lingkungan berubah menjadi kubangan mati. Tanpa pembersihan massal dan alat berat, pemukiman ini praktis dikunci dari aktivitas normal.

Ironisnya, bantuan yang relatif konsisten justru datang dari relawan. Dari pemerintah, warga menyebut bantuan sebatas beras dan mi instan—tidak terjadwal, tidak memadai, dan tanpa kejelasan lanjutan.

Baca Juga :  Armia Fahmi Dan Ismail Resmi Ditetapkan Sebagai Bupati Dan Wakil Bupati Aceh Tamiang Dalam Sidang Paripurna DPRK

Datok Desa Kota Lintang, Fadil, mengakui keterbatasan tersebut. Ia menyebut warganya tak mungkin membersihkan rumah dan jalan lingkungan tanpa ekskavator dan dump truck.

“Kami butuh alat berat, bukan imbauan,” kata Fadil. Selain itu, kebutuhan air bersih mendesak karena banyak sumur warga rusak dan tertutup lumpur.

Menurut Fadil, jika jalan dan rumah dapat segera dibersihkan, warga yang rumahnya tidak rusak parah bisa kembali tinggal dan memulai kembali aktivitas ekonomi. Tanpa langkah itu, pemulihan hanya akan berhenti sebagai laporan administratif.

Menjelang bulan suci Ramadan, kondisi warga kian terjepit. Persediaan pangan menipis, penghasilan nihil, dan ketidakpastian terus berlangsung.

Hingga berita ini diturunkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang belum memberikan penjelasan resmi mengenai progres rehabilitasi, distribusi bantuan, maupun rencana pengerahan alat berat ke wilayah terdampak. Diamnya pemerintah menambah panjang daftar korban—bukan hanya banjir, tetapi juga pembiaran. [SR]

Berita Terkait

Karna keterbatasan alat Korban Banjir Aceh Tamiang Keluhkan Lambatnya Pemulihan
Buku Tabungan Raib, Dana PIP Gelap: Skandal Sunyi di SD Alwasiliyah Seumadam
PTPN IV Regional 6 Kebun Dan PKS Pulau Tiga Salurkan Bantuan Tanggap Darurat Bencana Puting Beliung Di Kecamatan Tamiang Hulu.
Mak Gawat,???. BPK – RI Temukan Sejumlah Kejanggalan Di 17 Paket Pekerjaan Dinas PUPR Aceh Tamiang.
Gubernur Aceh H. Muzakir Manaf, Resmi Lantik Armi Fahmi Dan Ismail SE, I Sebagai Bupati Dan Wakil Bupati Aceh Tamiang Periode 2025-2030, Semoga Amanah.
Diduga Menggelapkan Duit Dana Desa, Inspektorat Diminta Periksa Kades Buket Panyang Dua
Armia Fahmi Dan Ismail Resmi Ditetapkan Sebagai Bupati Dan Wakil Bupati Aceh Tamiang Dalam Sidang Paripurna DPRK
Ketua DPRK Aceh Tamiang, Fadllon SH. Sepakat Pelantikan Gubernur Dan Wakil Gubernur Aceh Sesuai Jadwal.

Berita Terkait

Minggu, 1 November 2026 - 01:38 WIB

Deteksi Dini dan Pencegahan Gangguan Keamanan, Tiga Satuan TNI Gelar Patroli Malam di Wilayah Sumbawa

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 22:01 WIB

Patroli Malam Jadi Komitmen Koramil Utan dalam Menjaga Stabilitas Wilayah

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 18:59 WIB

Dekat dengan Rakyat, Koramil Moyo Hilir Perkuat Pembinaan Teritorial

Sabtu, 31 Oktober 2026 - 07:55 WIB

Unit Intel Kodim 1607/sumbawa Dan BNNP NTB Gerebek Dugaan Peredaran Sabu, Sepasang Kekasih Diciduk Dengan Barang Bukti 107,53 Gram!

Jumat, 30 Oktober 2026 - 21:31 WIB

Meriahkan Turnamen Sepak Bola Mini di Moyo Luar, Peltu Andri Mohar Tunjukkan Dukungan TNI terhadap Olahraga Masyarakat

Jumat, 30 Oktober 2026 - 19:12 WIB

Kades Cup II Desa Labuhan Kuris Jadi Momentum Mempererat Persatuan dan Menumbuhkan Sportivitas

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:08 WIB

Babinsa Hadiri Musrenbangdes Pamanto, Kawal Aspirasi Warga untuk Pembangunan Desa Tahun 2027

Jumat, 30 Oktober 2026 - 18:01 WIB

Wujudkan Generasi Sehat dan Cerdas, Babinsa Turut Kawal Upaya Pencegahan Stunting di Desa Bunga Eja

Berita Terbaru