Banjir Bandang Gayo Lues: Luka Alam yang Belum Sembuh, Kewaspadaan yang Tak Pernah Usai

REDAKSI OPOSISI NEWS 86

- Redaksi

Kamis, 15 Januari 2026 - 21:43 WIB

50127 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Mustafa Kamal

Pimpinan Umum Media Oposisi News 86

Gayo Lues/Oposisi News 86 – Banjir bandang yang melanda Kabupaten Gayo Lues sekitar satu bulan lalu bukan sekadar peristiwa alam yang datang dan pergi begitu saja.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bencana ini tercatat sebagai salah satu yang terparah dan terbesar sepanjang sejarah Gayo Lues, meninggalkan jejak kerusakan masif, trauma mendalam, serta kekhawatiran yang hingga kini masih dirasakan masyarakat.

Desa Pining di Kecamatan Pining, Desa Rerebe di Kecamatan Tripe Jaya, kawasan Tangsaran di Kecamatan Putri Betung, Jembatan Aih Bobo, Desa Badak, wilayah Dabun Gelang, Pantan Cuaca, Rikit Gaib hingga Desa Remukut hanyalah sebagian dari wilayah terdampak.

Masih banyak desa lain yang mengalami nasib serupa dan tak mampu disebutkan satu per satu.

Satu bulan pascakejadian, banjir bandang tersebut nyatanya belum benar-benar berakhir bagi warga. Rasa waswas masih menyelimuti kehidupan masyarakat Gayo Lues, terutama setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi.

Gemuruh air sungai dari hulu selalu menghadirkan kecemasan akan kemungkinan bencana serupa terulang kembali. Kewaspadaan itu hidup, nyata, dan terus dirasakan hingga detik ini.

Baca Juga :  Semangat Gotong Royong Jelang Hari Bhayangkara ke-79: Polres Gayo Lues Bersihkan Dua Masjid

 

Di tengah kondisi tersebut, patut diakui bahwa berbagai pihak terkait terus melakukan langkah-langkah nyata untuk membenahi infrastruktur dan jaringan yang luluh lantak dihantam arus deras. Jalan penghubung, jembatan, fasilitas umum, serta jaringan distribusi yang rusak akibat bencana secara bertahap mulai diperbaiki.

Upaya ini menjadi bagian penting dalam memulihkan denyut kehidupan masyarakat yang sempat terisolasi dan lumpuh akibat bencana.

Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Aceh, Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, Polres Gayo Lues beserta jajaran Kodim Gayo Lues, bersama para relawan, bahu-membahu hadir di tengah masyarakat. Bantuan kemanusiaan terus disalurkan, mulai dari sembako, kebutuhan pokok, hingga bantuan logistik lainnya.

Kehadiran aparat dan relawan tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan kepedulian bagi warga yang terdampak.

Namun demikian, banjir bandang di Gayo Lues tidak bisa semata-mata dipandang sebagai musibah alam biasa. Ia merupakan peringatan keras tentang rapuhnya keseimbangan antara manusia dan lingkungan.

Kondisi geografis Gayo Lues yang didominasi kawasan pegunungan dan daerah hulu sungai menuntut pengelolaan lingkungan yang jauh lebih bijaksana dan berkelanjutan. Ketika hutan kehilangan fungsi lindungnya dan daerah aliran sungai melemah daya dukungnya, maka banjir bandang hanyalah soal waktu.

Baca Juga :  Saatnya Wajah Baru/Melenial Maju Jadi Bacaleg Baik DPRA Maupun DPRK Gayo Lues

Penanganan pascabencana memang penting, tetapi langkah pencegahan jangka panjang jauh lebih krusial. Perbaikan infrastruktur harus dibarengi dengan penataan sungai, penguatan tebing, rehabilitasi kawasan hulu, serta pengawasan ketat terhadap aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan.

Tanpa kebijakan yang tegas dan konsisten, bencana serupa akan terus menjadi siklus yang berulang.

Bencana ini seharusnya menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi seluruh pemangku kepentingan. Sistem mitigasi bencana, peringatan dini, serta edukasi kebencanaan berbasis masyarakat perlu diperkuat hingga ke pelosok desa.

Masyarakat tidak boleh terus-menerus hidup dalam status waspada tanpa kepastian perlindungan yang nyata.

Gayo Lues hari ini masih menyimpan luka akibat banjir bandang sebulan lalu. Luka itu belum sepenuhnya sembuh, meski berbagai upaya pemulihan terus berjalan.

Kewaspadaan warga menjadi cermin bahwa trauma belum hilang. Jika penanganan lingkungan dan mitigasi bencana tidak dilakukan secara serius dan berkelanjutan, maka banjir bandang bukanlah peristiwa terakhir, melainkan ancaman yang akan terus menghantui masa depan Kabupaten Gayo Lues.

Berita Terkait

Wakapolres Gayo Lues Pimpin Kegiatan Bhakti Sosial Di Desa Pining, Berikut Videonya
Wakapolres Gayo Lues Pimpin Pergantian Pasukan Bakti Sosial di Kampung
Lewat Program Polri Peduli, Sumur Bor Dibangun di Masjid Al Ikhlas Desa Rigeb
Jembatan Gantung Pepalan Putus Saat Hujan Deras, Dua Warga Dilaporkan Hanyut
Mendidik Dengan Hati: Pola Asuh Cerdas Era Digital Di Gayo Lues
Aji Syahputra: Lebih dari Sekolah, Muhammadiyah Gayo Lues Tawarkan Model Pemberdayaan Holistik untuk Kemajuan Bangsa
Ladang Ganja di Hutan Lindung Gayo Lues: Kisah Tiga Tersangka dan 16,5 Kg Narkotika Lintas Kabupaten
Ibu dan Anak Terlibat Jaringan Narkotika, Ladang Ganja Setengah Hektar Ditemukan

Berita Terkait

Jumat, 15 Agustus 2025 - 08:22 WIB

Polres Meranti Tahan Pejabat DKPP Atas Dugaan Korupsi Bibit Kopi Liberika

Rabu, 25 Juni 2025 - 08:48 WIB

GRIB Jaya Kep. Meranti Gelorakan Dukungan Penuh untuk Polres Meranti dalam Ciptakan Kamtibmas Kondusif

Jumat, 20 Juni 2025 - 14:58 WIB

Kado Spesial Hari Bhayangkara ke-79: Polres Meranti Beri SIM Gratis untuk Warga Berulang Tahun di Tanggal Istimewa

Rabu, 28 Mei 2025 - 18:45 WIB

Polsek Merbau Berhasil Ungkap Kasus Pencabulan dan Persetubuhan Terhadap Anak di Bawah Umur

Senin, 5 Mei 2025 - 12:34 WIB

Polsek Merbau Berhasil Ungkap Kasus Dugaan Tindak Pidana Pencurian

Rabu, 26 Februari 2025 - 11:29 WIB

Keluarga Besar SMA Negri 3 Tebing Tinggi Gelar Santunan Anak Yatim

Kamis, 20 Februari 2025 - 13:56 WIB

Polres Meranti Gelar Patroli KRYD Pasca Pelantikan Bupati dan Wakil Bupati Meranti

Selasa, 18 Februari 2025 - 13:40 WIB

Sekretaris Dpc Grib Jaya Meranti Apresiasi Kunjungan Ketua DPD dan 12 Ketua DPC Grib Jaya Riau Temui Ketum DPP

Berita Terbaru