Oleh: Mustafa Kamal
Pimpinan Umum Media Oposisi News 86
Gayo Lues/Oposisi News 86 – Banjir bandang yang melanda Kabupaten Gayo Lues sekitar satu bulan lalu bukan sekadar peristiwa alam yang datang dan pergi begitu saja.

Bencana ini tercatat sebagai salah satu yang terparah dan terbesar sepanjang sejarah Gayo Lues, meninggalkan jejak kerusakan masif, trauma mendalam, serta kekhawatiran yang hingga kini masih dirasakan masyarakat.
Desa Pining di Kecamatan Pining, Desa Rerebe di Kecamatan Tripe Jaya, kawasan Tangsaran di Kecamatan Putri Betung, Jembatan Aih Bobo, Desa Badak, wilayah Dabun Gelang, Pantan Cuaca, Rikit Gaib hingga Desa Remukut hanyalah sebagian dari wilayah terdampak.
Masih banyak desa lain yang mengalami nasib serupa dan tak mampu disebutkan satu per satu.
Satu bulan pascakejadian, banjir bandang tersebut nyatanya belum benar-benar berakhir bagi warga. Rasa waswas masih menyelimuti kehidupan masyarakat Gayo Lues, terutama setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi.
Gemuruh air sungai dari hulu selalu menghadirkan kecemasan akan kemungkinan bencana serupa terulang kembali. Kewaspadaan itu hidup, nyata, dan terus dirasakan hingga detik ini.

Di tengah kondisi tersebut, patut diakui bahwa berbagai pihak terkait terus melakukan langkah-langkah nyata untuk membenahi infrastruktur dan jaringan yang luluh lantak dihantam arus deras. Jalan penghubung, jembatan, fasilitas umum, serta jaringan distribusi yang rusak akibat bencana secara bertahap mulai diperbaiki.
Upaya ini menjadi bagian penting dalam memulihkan denyut kehidupan masyarakat yang sempat terisolasi dan lumpuh akibat bencana.
Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Aceh, Pemerintah Kabupaten Gayo Lues, Polres Gayo Lues beserta jajaran Kodim Gayo Lues, bersama para relawan, bahu-membahu hadir di tengah masyarakat. Bantuan kemanusiaan terus disalurkan, mulai dari sembako, kebutuhan pokok, hingga bantuan logistik lainnya.
Kehadiran aparat dan relawan tidak hanya memberikan bantuan materi, tetapi juga menghadirkan rasa aman dan kepedulian bagi warga yang terdampak.
Namun demikian, banjir bandang di Gayo Lues tidak bisa semata-mata dipandang sebagai musibah alam biasa. Ia merupakan peringatan keras tentang rapuhnya keseimbangan antara manusia dan lingkungan.
Kondisi geografis Gayo Lues yang didominasi kawasan pegunungan dan daerah hulu sungai menuntut pengelolaan lingkungan yang jauh lebih bijaksana dan berkelanjutan. Ketika hutan kehilangan fungsi lindungnya dan daerah aliran sungai melemah daya dukungnya, maka banjir bandang hanyalah soal waktu.
Penanganan pascabencana memang penting, tetapi langkah pencegahan jangka panjang jauh lebih krusial. Perbaikan infrastruktur harus dibarengi dengan penataan sungai, penguatan tebing, rehabilitasi kawasan hulu, serta pengawasan ketat terhadap aktivitas yang berpotensi merusak lingkungan.
Tanpa kebijakan yang tegas dan konsisten, bencana serupa akan terus menjadi siklus yang berulang.

Bencana ini seharusnya menjadi momentum evaluasi menyeluruh bagi seluruh pemangku kepentingan. Sistem mitigasi bencana, peringatan dini, serta edukasi kebencanaan berbasis masyarakat perlu diperkuat hingga ke pelosok desa.
Masyarakat tidak boleh terus-menerus hidup dalam status waspada tanpa kepastian perlindungan yang nyata.
Gayo Lues hari ini masih menyimpan luka akibat banjir bandang sebulan lalu. Luka itu belum sepenuhnya sembuh, meski berbagai upaya pemulihan terus berjalan.
Kewaspadaan warga menjadi cermin bahwa trauma belum hilang. Jika penanganan lingkungan dan mitigasi bencana tidak dilakukan secara serius dan berkelanjutan, maka banjir bandang bukanlah peristiwa terakhir, melainkan ancaman yang akan terus menghantui masa depan Kabupaten Gayo Lues.



































