Menguak Tirani Kesunyian Di Sumbawa

REDAKSI NTB

- Redaksi

Jumat, 21 November 2025 - 22:29 WIB

50272 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Adrisal Faisal, Kaperwil Oposisi News 86.com, Wilayah Provinsi NTB. 

 

Sumbawa Besar-NTB, (21 November – 2025),- Di tengah arus utama media yang cenderung harmonis atau bahkan bisu terhadap isu-isu sensitif, muncul sebuah anomali bernama oposisinews86.com.

ADVERTISEMENT

banner 300x250

SCROLL TO RESUME CONTENT

Bukan sekadar portal berita, entitas ini memposisikan diri sebagai “suara yang dibenci,” sebuah sikap yang secara eksplisit menantang kemapanan dan mengusik ketenangan pihak-pihak yang merasa nyaman dengan tirani kesunyian.

Fondasi: Memilih Berdiri Disaat Banyak Yang Diam

Pernyataan redaksi oposisinews86.com yang beredar luas belakangan ini bukan sekadar manifesto, melainkan sebuah deklarasi perang naratif. Mereka membuka dengan pengakuan pahit: “Di saat banyak yang memilih diam, oposisinews86.com memilih berdiri.”

Ini adalah arsitektur pertama dari pesan mereka: Kontras Absolut. Narasi mereka dibangun di atas dikotomi antara diam (yang dianggap sebagai kolusi terselubung) dan berdiri (yang diartikan sebagai keberanian etis). Mereka menuduh media lain “menutup mata,” sementara mereka mengklaim “membuka tabir,” menyiratkan bahwa kebuntuan informasi di Tanah Sumbawa adalah produk dari pilihan sadar, bukan ketidaktahuan. Kehadiran mereka, tegas mereka, “tidak lahir untuk disukai.”

Struktur Kritik: Lontaran Caci Maki Dan Bantuan Fakta

Lontaran kritik terhadap oposisinews86.com terstruktur dalam tiga pilar utama penghinaan, yang justru mereka gunakan sebagai lencana kehormatan:

Stigmatisasi Profesi: Mereka dicap sebagai “hama” dan “media tidak jelas.” Istilah “hama” merujuk pada gangguan yang merusak tatanan, sebuah pengakuan tak langsung bahwa pemberitaan mereka merusak status quo yang nyaman.

Baca Juga :  Paskibra Lunyuk Siap Kibarkan Merah Putih, Danramil Tekankan Disiplin dan Tanggung Jawab

Validitas Organisasi: Mereka direndahkan karena tidak masuk organisasi wartawan dan tidak mengikuti Uji Kompetensi Wartawan (UKW). Dalam iklim media yang menjunjung tinggi legalitas formal, ketiadaan sertifikasi ini digunakan sebagai alat delegitimasi atas isi berita.

Tujuan Eksistensi: Esensi dari seluruh serangan, menurut redaksi, adalah upaya pembungkaman. “Ketika nama kami dibenci, ketika wartawan kami dibully, diejek, dan dihina— kami justru semakin yakin, bahwa suara kami sedang menyentuh sesuatu yang ingin ditutupi.”

Pembalasan Naratif: Menariknya, mereka merobohkan seluruh struktur kritik ini hanya dengan satu frasa: “Tapi satu hal yang tidak bisa mereka bantah oposisinews86.com memberitakan fakta.” Bagi mereka, fakta adalah mata uang yang tidak memerlukan izin resmi, pengakuan organisasi, atau sertifikat kompetensi.

“Fakta tidak butuh izin untuk disuarakan. Ia hanya butuh keberanian untuk diungkapkan.”

Atap Dan Simpul: Kejujuran Sebagai Penyebab Gusar

Dalam paragraf penutup,oposisinews86.com menetapkan posisi moral mereka. Mereka menolak pujian, pengakuan, dan tepuk tangan. Misi mereka direduksi menjadi satu tugas tunggal: “menyampaikan apa yang benar terjadi di tanah Sumbawa.”

Reaksi dari para pembenci dan pihak yang gusar—yang mereka definisikan sebagai gusar, marah, dan terganggu—adalah barometer keberhasilan mereka. Semakin keras reaksi penolakan, semakin kuat keyakinan mereka bahwa mereka berada “di jalan yang tepat.”

Baca Juga :  Babinsa Dukung Pembinaan Generasi Muda Lewat Kemah GERILIYA 2025

Ini adalah teknik retorika klasik: mengubah penolakan eksternal menjadi validasi internal.

Kemarahan pembaca atau objek berita adalah bukti bahwa kebenaran yang mereka suarakan adalah kebenaran yang menyakitkan, dan karenanya, kebenaran yang perlu.

Epilog: Ketahanan Dan Keberanian Yang Dibenci

Redaksi mengakhiri pernyataan dengan janji ketahanan, mengabaikan ancaman pembungkaman. Slogan mereka menjadi pengunci filosofi mereka:

Karena Bagi Kami, Lebih Baik Dibenci Karena Berani Berkata Benar, Dari Pada Dipuji Karena Diam Dalam kesalahan

Pesan ini secara langsung menyentuh nurani para kritikus mereka.

Ia memaksa mereka memilih: apakah menjadi pihak yang gusar pada kebenaran atau menjadi pihak yang dipuji dalam kebisuan. Oposisinews86.com memilih untuk menanggung kebencian, sebuah harga yang mereka yakini setara dengan menjalankan tugas jurnalistik sejati:

menjadi anjing penjaga, meski harus dilabeli sebagai hama, di tengah padang rumput yang tenang oleh kesepakatan diam.

Analisis Struktural:

Pernyataan oposisinews86.com adalah studi kasus tentang bagaimana sebuah entitas media non-arus utama menggunakan narasi Martir Kebenaran untuk mendapatkan legitimasi moral di hadapan delegitimasi formal. Mereka tidak menjual berita, mereka menjual Keberanian—sebuah komoditas yang langka dan mahal, terutama di wilayah yang kebenaran kerap diperdagangkan dengan kenyamanan.

Berita Terkait

Patroli Rutin Koramil 1607-02/Empang, Upaya Preventif Jaga Kondusivitas Wilayah
Anggota Kodim 1607/Sumbawa Turut Ambil Bagian dalam Kegiatan Donor Darah Hari Bakti Imigrasi ke-76
‎Koramil Tunjukkan Sinergi Kewilayahan pada Kirap Pataka
‎Humanis dan Preventif, Patroli Malam Koramil 1607-12/Moyo Hilir Sasar Remaja dan Pemukiman
Dandim 1607/Sumbawa Tegaskan Komitmen TNI AD dalam Pembangunan Infrastruktur Desa Gontar
Danramil 1607-04/Alas Hadiri Upacara Serah Terima Panji Lambang Kabupaten Sumbawa
‎Semarak HUT Kabupaten Sumbawa ke-67, Kodim 1607/Sumbawa Tunjukkan Kepedulian Sosial
‎Koramil 1607-09/Utan Pastikan Serah Terima Bendera Pataka Berjalan Aman dan Khidmat

Berita Terkait

Jumat, 30 Januari 2026 - 19:07 WIB

Retret PWI 2026 Teguhkan Peran Pers sebagai Penjaga Ketahanan Informasi Bangsa

Berita Terbaru

ACEH UTARA

Irigasi Hancur, Petani Geureudong Pase Terjerembab Krisis

Sabtu, 31 Jan 2026 - 14:29 WIB

ACEH

Subuh yang Mengajarkan Kepemimpinan

Jumat, 30 Jan 2026 - 21:28 WIB