Oleh: Kamal Gayo
Beberapa bulan telah berlalu sejak bencana alam melanda Kabupaten Gayo Lues. Secara kasat mata, mungkin sebagian orang menilai musibah itu telah menjadi bagian dari masa lalu. Namun bagi masyarakat Gayo Lues, bencana tersebut bukan sekadar catatan waktu yang bisa ditutup begitu saja. Ia masih hidup dalam ingatan, dalam rasa takut yang menetap, dan dalam sunyi yang tersisa di kampung-kampung yang porak-poranda.
Bencana itu tidak hanya menghancurkan infrastruktur dan fasilitas umum, tetapi juga merobek rasa aman masyarakat. Jalan terputus, jembatan runtuh, rumah warga hilang atau rusak berat, ladang dan sumber penghidupan tertimbun material alam. Lebih dari itu, nyawa manusia turut menjadi korban.
Kehilangan ini tidak bisa diukur dengan angka, tidak pula bisa dipulihkan hanya dengan pembangunan fisik. Di balik setiap rumah yang roboh, ada cerita keluarga yang tercerai. Di balik setiap jalan yang rusak, ada perjalanan hidup yang terhenti.
Hingga hari ini, trauma masih menyelimuti masyarakat Gayo Lues. Rasa takut kembali ke desa asal masih begitu nyata. Setiap hujan deras turun, setiap suara alam terdengar lebih keras dari biasanya, kecemasan kembali menyeruak.
Bagi sebagian warga, bencana itu seolah belum benar-benar usai. Mereka masih memilih bertahan di pengungsian atau di tempat sementara, bukan karena tidak rindu kampung halaman, tetapi karena rasa aman belum sepenuhnya pulih.
Tidak sedikit pula masyarakat yang harus menerima kenyataan pahit kehilangan tempat tinggal dan anggota keluarga. Ada yang pulang ke desa hanya untuk mendapati puing-puing kenangan. Ada yang kembali tanpa lagi menemukan wajah-wajah yang dulu menemani hari-harinya. Luka batin ini jauh lebih dalam dari sekadar kerusakan bangunan. Ia menetap, diam-diam menggerogoti harapan.
Di sisi lain, upaya pemerintah patut diapresiasi. Pemerintah pusat, Pemerintah Aceh, hingga pemerintah daerah terus melakukan langkah-langkah pembenahan dan pemulihan.
Bantuan disalurkan, infrastruktur mulai diperbaiki, dan perhatian terhadap daerah terdampak terus diupayakan. Pemerintah kecamatan hingga pemerintahan desa pun bergerak dengan segala keterbatasan, bahu membahu menyalurkan bantuan hingga ke pelosok-pelosok yang sulit dijangkau.
Memang harus diakui, medan Gayo Lues yang berat dan kondisi geografis pedalaman menjadi tantangan tersendiri. Tidak semua bantuan bisa tiba tepat waktu. Tidak semua kebutuhan bisa segera terpenuhi. Namun di tengah keterbatasan itu, ada ikhtiar yang terus berjalan, ada kepedulian yang tidak berhenti. Aparat, relawan, dan masyarakat saling menguatkan, mencoba menutup celah yang masih terbuka.
Meski demikian, pemulihan sejati tidak hanya soal membangun kembali jalan, jembatan, atau rumah. Yang jauh lebih penting adalah memulihkan rasa aman dan kepercayaan masyarakat. Trauma pascabencana membutuhkan perhatian serius. Pendampingan psikososial, kepastian hunian layak, dan jaminan keselamatan menjadi kebutuhan mendesak yang tidak boleh terabaikan. Tanpa itu, pembangunan fisik akan terasa hampa.
Gayo Lues hari ini adalah potret daerah yang sedang berjuang bangkit dari luka yang dalam. Masyarakatnya tidak meminta kemewahan, mereka hanya ingin kembali hidup tanpa rasa takut. Mereka ingin pulang ke desa dengan keyakinan bahwa alam tidak lagi menjadi ancaman, dan negara hadir untuk melindungi.
Bencana mungkin telah berlalu, tetapi ingatannya masih menetap. Tugas kita bersama, pemerintah, masyarakat, dan seluruh elemen bangsa, adalah memastikan bahwa luka ini benar-benar sembuh, bukan sekadar tertutup sementara.
Sebab bagi Gayo Lues, bangkit bukan hanya tentang membangun kembali yang runtuh, melainkan juga mengembalikan harapan yang nyaris padam. []



































