Gayo Lues — Masyarakat diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan saat membeli kartu perdana Telkomsel, khususnya nomor cantik, melalui media sosial Facebook.
Pasalnya, praktik penipuan dengan modus penjualan kartu perdana tidak aktif kembali memakan korban. Sejumlah konsumen dilaporkan mengalami kerugian setelah menerima kartu yang tidak dapat digunakan, meski telah melakukan pembayaran kepada penjual.
Seorang warga Kabupaten Gayo Lues yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan pengalamannya pada Rabu (21/01/2026).
Ia mengaku tertipu saat memesan kartu perdana Telkomsel secara daring melalui Facebook. Kartu yang dijanjikan aktif dan siap pakai ternyata tidak bisa digunakan sama sekali setelah diterima.
“Saya sudah hubungi agen tersebut melalui WA nya saya konfirmasi terkait kartu yang saya pesan tidak aktif, bahkan pihak Agen Telkomsel hanya menjawab akan kita usahakan, namun hingga beberapa kali kami WA lagi enggak dibalas balas,” Tuturnya geram.
Menurutnya, praktik seperti ini bukan hanya merugikan konsumen secara materi, tetapi juga mencederai kepercayaan publik terhadap transaksi daring.
Ia menilai, jika para penjual bersikap jujur dan profesional, seharusnya tidak ada alasan untuk melakukan penipuan demi keuntungan sesaat.
“Kalau agen mau jujur, jual saja barang yang benar. Jangan main tipu-tipu. Yang rugi bukan hanya kami sebagai konsumen, tapi mereka sendiri. Sekali konsumen tahu, selamanya orang tidak akan percaya lagi beli lewat Facebook,” ujarnya dengan nada kecewa.
Ia menambahkan, kerugian konsumen mungkin hanya terjadi sekali atau dua kali, namun dampak bagi penjual yang menipu bisa jauh lebih panjang. Hilangnya kepercayaan publik akan membuat usaha mereka mati perlahan.
Lebih dari itu, menurutnya, penipuan bukan hanya soal uang, tetapi juga soal nilai moral dan tanggung jawab terhadap keluarga.
“Uang hasil menipu itu dimakan oleh dia, istrinya, anak-anaknya.
Itu bukan rezeki. Itu akan jadi darah daging sampai ke anak cucunya. Kami mungkin rugi sekali, tapi dia rugi selamanya,” katanya dengan nada tajam.
Ia juga menegaskan bahwa meskipun korban mungkin terlihat diam, bukan berarti mereka mengikhlaskan perbuatan tersebut. Rasa kesal dan sakit hati akan tetap ada, dan secara moral penipu harus menanggung akibat dari perbuatannya sendiri.
“Kalau saya ditipu, ya sudah biasa, tapi tidak akan saya ikhlaskan. Biar saja dia senang makan uang hasil jualan kartu Telkomsel palsu itu. Nanti dia sendiri yang tanggung akibatnya. Perutnya mungkin kenyang hari ini, tapi bebannya panjang, sampai susah bernapas,” tuturnya kesal.
Kasus ini menjadi peringatan keras bagi masyarakat agar tidak mudah tergiur dengan harga murah atau iming-iming nomor cantik di media sosial.
Konsumen diimbau untuk membeli kartu perdana hanya melalui gerai resmi, outlet terpercaya, atau mitra penjualan yang jelas legalitasnya.
Sementara itu, para penjual diingatkan bahwa keuntungan dari kebohongan tidak akan pernah membawa keberkahan, melainkan hanya menyisakan kerugian, aib, dan hilangnya kepercayaan publik. []




































